Federasi Serikat Pekerja

Website resmi milik FSP BUMN. Website ini berdiri sejak Mei 2012 dengan harapan agar dapat memberikan informasi para anggota dan masyarakat luas pada umumnya
 

Dahlan Iskan: Pribadi yang Fokus pada Kerja

Bekerja keras, efektif, dan tidak begitu peduli pada penampilan atau protokoler birokrasi. Itulah bagian dari style Dahlan Iskan. Mantan jurnalis ini, segera menjadi pusat perhatian, ketika diangkat menjadi Menteri BUMN karena gerakan licahnya, mengingatkan orang pada sosok Adam Malik.

Ketika hasil reshufle Kabinet Indonesia Bersatu II diumumkan, Oktober 2011 lalu, masyarakat banyak yang menyampaikan ketidakpuasannya. Tapi, masuknya Dahlan Iskan sebagai Menerti BUMN menggantikan Mustofa Abubakar, menjadi kekecualian yang kontras. Publik menyambut kehadiran mantan Direktur Utama (Dirut) PT PLN itu, dengan antusias.

Dahlan Iskan, yang punya sikap nothing to lose, dipercaya bisa menjadi tempok tebal bagi kekuatan manapun, yang berniat merongrong BUMN. Lebih dari itu, Dahlan Iskan adalah tipe pekerja tulen, yang tak segan-segan menerabas hambatan birokrasi dan protokoler, untuk efektifitas tugas yang diembannya.

Tengok saja, bagaimana sibuknya Dahlan Iskan, tidak lama setelah melakukan serah terima jabatan (sertijab) dengan Mustopfa Abubakar. Ia langsung menggelar pesta perpisahan dengan direksi PT PLN secara sederhana di Sate Kambing Pejompongan. Setelah itu, ia mengunjungi semua ruang staf dan pejabat di Kementerian BUMN.

Sore itu juga, Dahlan langsung menggelar Rapat Pimpinan (Rapim) pertama. Dalam rapat itu, ia menyatakan bahwa sebagai Menteri ia tidak akan mengangkat Staf Khusus Menteri, meski secara ketentuan, itu memungkinkan. Dan malamnya, sekitar pukul 20.00 WIB, Dahlan sudah langsung bergerak ke Bali, untuk kemudian menyeberang ke Lombok. Di Lombok, Dahlan mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan groundbreaking pembangunan kawasan pariwisata terpadu Mandalika.

Di sela-sela mendampingi Presiden, Dahlan juga menyempatkan diri berkoordinasi dengan Dirut PT Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II, termasuk direksi PT Bali Tourism Development Corporation (BTDC). Sekembali dari Lombok, Dahlan langsung melakukan rapat dengan para deputinya. Selanjutnya, pada Sabtu (22/10) Dahlan bertolak ke Sumatera Utara, melakukan kunjungan kerja ke Nias. Dahlan menyertakan sejumlah direksi seperti Dirut PT Kereta Api Indonesia, PT ASDP Indonesia Ferry, dan PT Jasa Marga.

Sambil menginap di Pulau Nias, Dahlan pada malam harinya melakukan diskusi rileks, namun sangat produktif, dengan para direksi terkait pembangunan yang melibatkan BUMN di kawasan itu.

Tidak cukup sampai di situ, Minggu (23/10) pagi, Ketua Umum GABSI (Gabungan Bridge Seluruh Indonesia) ini pun bergerak menuju Medan. Di ibukota Provinsi Sumatera Utara itu, Dahlan memanggil direksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I, II, III, dan IV serta PT Kawasan Industri Medan, PT Pupuk Iskandar Muda. Ia kembali ke Jakarta Minggu sore, namun Dahlan juga ‘dihadang’ permintaan pertemuan oleh Dirut PT Pelindo II, RJ Lino, yang melaporkan berbagai program pengembangan Pelindo II.

Itu soal gambaran etis kerja seorang Dahlan Iskan. Sedangkan kesederhanaannya, sudah banyak diperbincangkan ketika pelantikan, dan sertijab. Dalam acara sertijab, yang berlangsung di lantai 21 KBUMN, dengan santainya Dahlan hanya berkemeja putih dengan lengan digulung, tanpa jas, dan tetap setia bersepatu kets hitam. “Saya sudah terbiasa 30 tahun memakai sepatu kets, sejak jadi wartawan,” akunya. Tidak sampai di situ saja, Dahlan pun tidak menggunakan keistimewaan seorang Menteri untuk menggunakan lift khusus, sebagaimana yang selama ini berlaku. Satpam yang biasa memberi hormat ketika bersua dengannya, dimintanya untuk tidak lagi memberi hormat dengan cara seperti itu. Dan satu hal lagi, ia tak mau dipanggil Pak Menteri. “Jangan panggil saya Pak Menteri, panggil saya Pak Dahlan. Itu nama saya,” katanya.

Hal unik lainnya, ia berkeinginan untuk tidak menggunakan fasilitas sebagai Menteri, antara lain gaji, rumah dinas dan mobil dinas, sebagaimana yang ia lakukan di PLN. Pun ia ingin jalan kaki ke Kementerian BUMN dari rumahnya, di kawasan SCBD, Sudirman.

Dua hari setelah dilantik, Dahlan Iskan makan siang di kantin Diesel di halaman parkir belakang KBUMN, yang biasa tempat makan para pegawai KBUMN. Sepertinya, hanya Menteri Negara BUMN bernama Dahlan Iskan yang bisa melakukan itu. Bahkan para pejabat Eselon I KBUMN rasarasanya tak pernah menginjakkan kaki ke kantin itu. Namun, mantan Dirut PT PLN ini melakukannya tanpa beban.

Sebenarnya, Dahlan Iskan sudah mencoba untuk menghindar dari ‘keributan’ reshuffle. Ia sudah siap-siap boarding, menuju Amsterdam. Ia memang tidak ingin jadi Menteri. Dahlan sudah terlanjur cinta pada PLN. Ia seakan menemukan kegairahan dan merasa muda lagi melihat perkembangan PLN. “Padahal dulu saya benci PLN mati-matian,” akunya. Di saat seperti itulah tiba-tiba ada suara: “Ini ada telpon untuk Pak Dahlan,” ujar salah seorang keluarganya, yang akan sama-sama ke Eropa, sambil menyodorkan HP. Telepon pun ia terima. Ia kemudian tercenung. “Tidak boleh berangkat! Ini perintah Presiden!” suara seseorang dari balik telepon itu terdengar dengan jelas. “Wah, saya kena cekal,” kata Dahlan dalam hati, sambil berguyon.

Meski pekerja keras, Dahlan Iskan memang tidak kehilangan sisi humorisnya.

Dahlan, misalnya, pernah bercerita tentang hari kelahirannya yang sangat spesial. Spesial lantaran tanggal itu dipilihnya sendiri, karena orang tuanya tidak punya catatan kelahirannya. Sebenarnya, sampai tamat SMA, Dahlan belum peduli dengan tanggal lahir dan karena itu juga tak pernah bertanya ke bapaknya.

Hidup di desa, 17 km dari Magetan, waktu itu, tidak ada administrasi yang memerlukan tanggal lahir. Ketika sudah amat dewasa, Dahlan pun bertanya kepada bapaknya mengenai tanggal lahir itu. Jawabnya tegas: Selasa Legi! Tapi, bukankah setiap 35 hari ada Selasa Legi? “Waktu itu,” kata bapaknya sambil berpikir keras, “Ada hujan abu yang sangat hebat”. Maksudnya ketika itu Gunung Kelud meletus. Begitu hebatnya, sampai desanya yang jaraknya lebih 100 km dari gunung di Blitar itu dalam keadaan gelap selama sepekan. Ia pun tak melakukan riset, kapan saja Gunung Kelud meletus. Baginya, tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. Ia pun memutuskan sendiri: lahir tanggal 17 Agustus 1951. Itulah tanggal lahir yang secara resmi dipakainya di dokumen apa pun sampai sekarang.

Dahlan berasal dari keluarga tidak mampu. Masa kecil pria berkacamata itu dilalui dengan sangat berkurangan. Bahkan untuk urusan pakaian saja, Dahlan kecil pernah hanya memiliki satu baju dan celana. Jika keduanya dicuci, Dahlan harus menyelimuti tubuhnya dengan sarung.

Karena itu, sarung adalah salah satu barang yang sangat berkesan untuk seorang Dahlan. Bagi Dahlan, sarung bisa menjadi apa saja mulai dari selimut, alat salat, hingga pengganti baju. Bahkan saat sarung sobek dan rusak, masih bisa dimanfaatkan sebagai sarung bantal atau popok bayi. Namun Dahlan yang tidak menamatkan kuliahnya di IAIN Sunan Ampel Surabaya ini, tak pernah mengeluh. Ia selalu berusaha untuk mensyukuri semua yang dialaminya selama ini.

Karir Dahlan dimulai dari menjadi calon reporter di salah satu surat kabar kecil di Samarinda, Kalimantan Timur pada 1975. Setahun kemudian, Dahlan menjadi wartawan Majalah Tempo. Tahun 1976, ketika pimpinan Majalah Tempo Jawa Timur pensiun, ia ditugaskan ke Surabaya.

Waktu itu Majalah Tempo membeli Jawa Pos, dan pada 1982 Dahlan ditunjuk memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang. Ia kemudian menjadi pemegang saham Jawa Pos tersebut. Di tangan Dahlan, Jawa Pos yang saat itu hampir mati bisa bangkit, kini sudah menjadi raksasa media dengan jarungan sangatluas.

Biodata

Nama: Dahlan Iskan
Lahir: Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951
Jabatan: Menteri BUMN 19 Oktober – sekarang, Chairman Jawa Pos Grup, 2000 – sekarang.
Istri:
Anak: Azrul Ananda, Isna Fitriana
Agama: Islam
Pendidikan: Fakultas Hukum IAIN Sunan Ampel, Minout Indonesia LPPM (1979), FINNON LPPM (1980).

Karier:
1).Wartawan majalah Tempo (1976)
2).Pemimpin surat kabar Jawa Pos sejak 1982
3).Komisaris PT.Fangbian Iskan Corporindo (FIC) 2009
4).Direktur Utama Perusda PT. PWU Jatim Group (2000)
5).Komisaris pabrik kertas Adiprima Suraprinta
6).Komisaris Power Plant PT. Prima Elektrik Power di Surabaya
7).Direktur Utama Power Plant PT.Cahaya Fajar Kaltim
8).Komisaris Kaltim Elektrik Power
9).Ketua Umum Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) se-Indonesia
10).CEO Jawa Pos Group, 2000
11).Direktur Utama PLN 23 Desember 2009 – 19 Oktober 2011
12).Menteri BUMN, 19 Oktober – sekarang