Federasi Serikat Pekerja

Website resmi milik FSP BUMN. Website ini berdiri sejak Mei 2012 dengan harapan agar dapat memberikan informasi para anggota dan masyarakat luas pada umumnya
 

’Mengawinkan’ Sawit dengan Sapi

majalah-garda2

BUMN agro kini dipacu untuk bergerak lincah. Tidak lagi terpaku pada tanaman yang selama ini digarap. Tujuannya bukan hanya menggaet keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat pada masyarakat.

Jauh sebelum Indonesia dilanda krisis daging sapi sehingga harganya melambung tinggi, Dahlan Iskan sudah memikirkan kemungkinan, BUMN agro mengembangkan ternak sapi potong. Ide tersebut, kemudian mendesak dijalankan, setelah pasokan daging langka. Selama ini, Indonesia memang memenuhi sebagian kebutuhan daging, melalui impor. Pengembangkan ternak sapi, dilakukan melalui program sapi-sawit, atau peternakan sapi yang terpadu dengan perkebunan sawit. Program ini ditargetkan bisa menjadi salah satu tumpuan bertambahnya populasi ternak sapi yang dilakukan perusahaan perkebunan, atau dalam bentuk perusahaan perkebunan membantu untuk membuat kandang bersama atau kandang komunal di sekitar perkebunan sawit itu. “Selain ketersediaan pakan mencukupi nantinya di kandang komunal tersebut dapat dijaga bersama bagi pemilik ternak  dari pada memelihara sendiri-sendiri satu atau dua ekor, yang nantinya di dalam kandang bersama ditandai dengan “chip” atau lainnya agar tidak tertukar,” jelas Dahlan Iskan. Dengan upaya ini, lanjut dia, peternak dapat mempunyai pasokan pakan mencukupi dan lebih ekonomis di perkebunan sawit dan intinya perkebunan sawit dapat diandalkan dalam program pengembangan ternak sapi tersebut. Ia menambahkan, Kementerian BUMN pada 2012 mulai mengembangkan ternak sapi dengan target sebanyak 100 ribu ekor di Indonesia namun pada realitanya menghadapi berbagai kesulitan untuk pengadaan anak sapi sebanyak itu. “Kami akan mengupayakan pada akhir 2013 tercapai, jika tidak juga tercapai kemungkinan pada 2014,” ujar dia. BUMN yang didorong untuk fokus pada peternakan sapi antara lain PT Berdikari. Sejak tahun lalu, BUMN ini sudah melakukan program penggemukan sapi.

Jika program ini sudah menghasilkan, Kementerian BUMN akan melibatkan BUMN transportasi seperti PT PELNI, untuk mendistribusikan sapi ke berbagai pelosok tanah air. Kapal-kapal milik PT PELNI mulai diubah sekarang menjadi 3 in 1, dulu hanya mengangkut penumpang saja. Kebetulan jumlah penumpang kapal-kapal PT PELNI saat ini menurun. Sebab, saat ini banyak penumpang beralih ke pesawat karena harga tiketnya yang murah. Desain kapal-kapal PT PELNI diubah, sehingga saat ini kapal-kapal tersebut bisa mengangkut penumpang, barang, dan ternak. “Pengerjaan alih fungsi kapal ini memakan waktu, sehingga eksekusinya baru bisa dimulai lima bulan lagi, walaupun ide dan pemikirannya sudah digodok sejak setahun yang lalu,” tutur Dahlan Iskan. BUMN lain, yaitu PT Rajawali, mulai mengelola rumah pemotongan di Lombok. Rumah pemotongan itu milik Pemda, namun tidak terkelola dengan baik, maka pengelolaannya diambil oleh PT Rajawali. Lagi pula, tidak perlu mengangkut sapi ke Jakarta, cukup dagingnya saja. Jadi sedang kita coba sapi-sapi dipotong di Lombok, dagingnya saja kita kirim ke Jakarta. Kemarin ketika terjadi kekurangan pasokan daging, banyak orang mengeluhkan kurangnya pengiriman sapi ke Jakarta. Jika mengangkut sapinya repot sekali, maka saya pikir mendistribusikan daging itu lebih rasional.