Federasi Serikat Pekerja

Website resmi milik FSP BUMN. Website ini berdiri sejak Mei 2012 dengan harapan agar dapat memberikan informasi para anggota dan masyarakat luas pada umumnya
 

Menurut Menko Perekonomian, Indonesia Beda dengan Yunani dalam Berutang

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil menyampaikan bahwa Indonesia berbeda dengan Yunani dalam berutang. Indonesia dinilainya menggunakan utang untuk kepentingan yang produktif, sementara Yunani berutang untuk kepentingan sosial dan konsumsi.

“Yunani berutang banyak untuk kepentingan konsumtif, kepentingan sosial. Kita berutang yang harus dihindari untuk kepentingan konsumtif. Jangan bandingkan Yunani dengan Indonesia,” kata Sofyan di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Kamis (9/7/2015).

Menurut dia, tidak tepat jika membandingkan antara Indonesia dengan Yunani dalam berutang. Indonesia, kata Sofyan, lebih tepat jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang jauh lebih baik pengelolaan manajemen ekonominya.

Sofyan mengatakan bahwa rasio utang Yunani saat ini hampir 200 persen dari gross domestic product (GDP) atau produk domestik bruto (PDB). Sedangkan Indonesia, baru 26 persen dari GDP.

“Yang penting adalah prinsipnya seperti rumah tangga juga, tidak boleh lebih besar pasak daripada tiang. Kalau kita berutang untuk bertumbuh, itu harus, karena tidak ada sebuah negara atau perusahaan, atau keluarga yang bsia punya rumah kalau tidak berutang untuk punya kredit rumah,” kata Sofyan.

Ia menganggap bukan suatu masalah jika negara mengambil pinjaman luar negeri asalkan digunakan untuk hal-hal yang produktif. Untuk ke depannya, Sofyan mengatakan bahwa negara akan tetap berutang untuk membangun infrastruktur.

Pemerintah sebelumnya diingatkan sejumlah kalangan untuk belajar dari Yunani yang dinilai salah perhitungan ketika berutang kepada IMF atau lembaga pembiayaan internasional. Alih-alih bisa melunasi utangnya sebesar Rp 22 triliun, Yunani kini bangkrut.

Menurut pengamat politik Ahmad Junaidi seperti dikutip Tribun News, utang Indonesia periode Januari 2010 hingga Mei 2015 menembus angka Rp 2.845,25 triliun. Belum lama ini Menteri BUMN Rini Soemarno telah meminjam utang Rp 520 triliun dari Tiongkok.

Sumber : Kompas