Federasi Serikat Pekerja

Website resmi milik FSP BUMN. Website ini berdiri sejak Mei 2012 dengan harapan agar dapat memberikan informasi para anggota dan masyarakat luas pada umumnya
 

Kepak Sayap ‘SANG RAJAWALI’

SETELAH meniti usia 48 tahun dengan terengah-engah, PT RNI kini melesat tinggi, bagaikan Sang Rajawali yang terbang tinggi dengan kepakan sayapnya. Hanya dalam waku 9 bulan saja setelah perombakan direksi, BUMN agro ini sudah membukukan keuntungan Rp 450 miliar.

PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) seperti terbangun dari “tidur” panjangnya. Di bawah kendali Ismed Hasan Putro yang diangkat jadi Direktur Utama (Dirut) pada 2 Maret 2012, BUMN agro ini mulai menggeliat, kemudian bangkit dengan menorehkan laba kotor Rp 450 miliar pada akhir 2012. Ini merupakan pencapaian tertinggi kinerja bisnis PT RNI, yang selama 48 tahun tidak pernah melewati laba Rp 100 miliar, bahkan kerap terjerembab dalam jurang kerugian. Pada 2011, masih terpuruk dibekap kerugian Rp 68,4 miliar. Ada empat anak perusahaan, yang tampil sebagai kontributor laba, yaitu pabrik gula (Rajawali I dan II), perusahaan sawit (Mitra Ogan) di Sumatera Selatan, perusahaan farmasi (Phapros), dan PT Nusindo. Kontribusi laba tersesar, datang dari pabrik gula, yang mencapai 70 persen.

Bagaimana Ismed Hasan bisa begitu cepat melejitkan kinerja PT RNI? Mantan wartawan ini, sebetulnya sudah cukup mengenal PT RNI, karena sebelumnya menjadi anggota komisaris. Karena itu, begitu dipercaya memegang kendali manajemen, ia sudah tahu apa yang harus segera dilakukan. “Saya langsung membersihkan ‘lemak-lemak’ yang mengganggu kesehatan RNI,” ungkapnya.

ISMED HASAN PUTRO Direktur Utama PT RNI

Lantas, Ismed melancarkan empat strategi yang diterapkan secara serentak. Pertama, melakukan efisiensi secara ketat. Kedua, melakukan strategi baru dalam penjualan gula dengan memasuki pasar ritel. Ketiga, mengubah budaya kerja. Keempat, menghapuskan budaya “ngentit” (mencuri) gula, pengadaan, dan lain-lain. Hasilnya, RNI bukan saja mampu melepaskan diri dari jerat kerugian, tetapi mampu melejitnya kinerja bisnis hingga 500 persen, hanya dalam waktu 9 bulan pertama.

Keberhasilan melejitkan kinerja tersebut, lantas dijadikan landasan bagi RNI untuk masuk ke jalur cepat, dan langsung tancap gas. Langkah pengembangan bisnis, segera diayunkan. Termasuk ekspansi hingga ke sejumlah sektor yang sebelumnya tidak disentuh. Misalnya, industri peternakan, melalui pembibitan dan penggemukan sapi. Sepanjang 2013 ini, direncanakan ada 140 ribu ekor sapi yang bakal digemukkan di Sumatera Selatan dan Jawa Barat.

Bisnis peternakan tersebut, dijalankan di lahan pabrik gula milik RNI, dan melibatkan masyarakat setempat melalui pola inti plasma. Sebagian besar sapi, tepatnya 125 ribu ekor, penggemukannya akan diserahkan ke masyarakat, sehingga mampu meningkatkan pendapatan masrayakat sekitar pabrik gula.

Penggemukan Sapi PT RNI

RNI juga sudah mengayunkan langkah barunya, di sektor properti. Melalui anak perusahaan yang baru dibentuk, yaitu PT Raja Properti Indonesia, akan membangun sejumlah gedung perkantoran, apartemen, hotel, kondominium, dan mall. Pembangunan gedung yang diperkirakan menelan investasi sekitar Rp 3 triliun itu, pelaksanaannya akan melibatkan sejumlah BUMN karya serta dana investasi juga akan memanfaatkan fasilitas pinjaman sejumlah bank BUMN, selain dengan dana segar modal perseroan.

Bangunan-bangunan itu, tersebar di tiga kota. Tiga di Jakarta, dua di Surabaya, satu di Cirebon. Di Jakarta, pembangunan properti itu akan menempati lahan bekas gedung milik RNI yang selama ini menjadi idle asset, dan tiga banguan properti di antaranya akan dibangun di Jl MT Haryono, kawasan Kuningan dan Gatot Soebroto Jakarta. Di kawasan MT Haryono, awal tahun ini pembangunan fisik dua tower dengan ketinggian 32 lantai di atas lahan seluas 1,44 hektar sudah dimulai dengan menelan investasi sebesar Rp 850 miliar. Dua tower dengan nama Menara Phapros tersebut akan digunakan untuk perkantoran, hotel dan apartemen.

Pembangunan gedung segera disusul di kawasan Gatot Soebroto di atas lahan seluas 7.000 m2 dengan dua tower, untuk investasi kini tengah diperhitungan, sedangkan di kawasan Kuningan akan dibangun hotel, perkantoran dan convention hall di atas lahan seluas 5,9 hektare dengan nama Menara RNI. “Menara RNI ini dibangun juga dua tower dengan total luas 45 lantai terdiri 17 lantai untuk hotel dan 8 lantai untuk convention hall, dan sisanya untuk perkantoran. Pembangunan fisik dimulai paling lambat awal 2014,” tutur Ismed.

Di Surabaya, juga akan dibangun gedung hotel dan apartemen, lokasinya di Undaan di atas lahan seluas 3 hektare dengan nilai investasi sebesar Rp1,2 triliun serta di kawasan Jumerto Sidoarjo di atas lahan seluas 1.400 m2 senilai Rp15 miliar untuk kondomonium. Di Cirebon RNI akan membangun mall, hotel dan perkantoran di atas lahan seluas 3 hektare dengan nilai investasi di atas Rp1 triliun. Sedangkan langkah pengembangan bisnis yang sudah berjalan, antara lain dilakukan dengan memperluas lahan tebu untuk menggenjot produksi gula, hingga mencapai 40 ribu hektar. RNI juga sudah siap bekerja sama dengan BUMN di Myanmar dan Kamboja, untuk membuka lahan tebu di kedua negara Asean tersebut. Selain tebu, juga akan digarap tanaman padi. Targetnya, RNI mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap swasembada beras dan gula pada 2014 nanti.

Anak perusahaan di bidang farmasi, yaitu PT Phapros, kinerjanya akan digeber dengan target bisa melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) pada 2014 nanti. Anak perusahaan yang bergerak di perkebunan sawit, yaitu PT Perkebunan Mitra Ogan dan PT Laras Astra Kartika (Laskar), juga dipersiapkan untuk dapat melakukan IPO pada 2014 nanti. Tapi, saat ini masih dilakukan pengkajian mendalam. Dengan pencapaian kinerja yang telah dicetaknya, plus langkah ekspansi bisnis yang siap diayunkannya, sekarang ini PT RNI telah menjelma bagai Sang Rajawali, yang sedang mengepakkan sayapnya, terbang melesat ke langit tinggi. Tentu saja, semuanya berkat dukungan seluruh jajaran karyawan, yang produktivitasnya sedang dipacu ke level tinggi.

Perusahaan telah menetapkan kebijakan, yang memastikan bahwa setiap keuntungan yang diraih perusahaan, bakal dirasakan juga oleh karyawan, yang saat ini berjumlah 7.339 orang. Untuk keuntungan yang diraih saat ini saja, karyawan mendapatkan kenaikan jasa produksi atau jasprod yang besar. Bahkan, karyawan pabrik gula di Malang yang berada di bawah PT Rajawali I, bisa memperoleh jasprod hingga 15 kali gaji. Kenaikan jasa produksi itu dirasakan semua karyawan, mulai dari level pimpinan, general manager, hingga sopir.