Federasi Serikat Pekerja

Website resmi milik FSP BUMN. Website ini berdiri sejak Mei 2012 dengan harapan agar dapat memberikan informasi para anggota dan masyarakat luas pada umumnya
 

PT Pertamina, Menembus Kelas Dunia

kinerja-pertamina

Tahun 2013, yang bakal segera berlalu, telah menorehkan tinta emas dalam dunia korporasi Indonesia. Untuk pertama kalinya, perusahaan Indonesia mampu mencatatkan diri dalam daftar 500 Perusahaan Terbesar Global tahun 2013 (Fortune Global 500), yang dirilis majalah Fortune. Perusahaan tersebut adalah PT Pertamina, BUMN energi yang kinerjanya terus menanjak.

Dalam Fortune Global 500 Pertamina menduduki posisi 122 dari 500 perusahaan terbesar di seluruh dunia. Peringkat tersebut didasarkan pada beberapa faktor penting, seperti pendapatan, laba, dan aset. Fortune mencatat, Pertamina meraup pendapatan 70,924 miliar dollar AS, dengan perolehan laba 2,761 miliar dollar AS, dan aset 40,882 miliar dollar AS. Torehan laba bersih 2012 tersebut, merupakan kenaikan sebesar 15 persen dari tahun sebelumnya, dan menjadi pencapaian tertinggi dalam sejarah sejak Pertamina berdiri.

Pertamina berdiri pada 10 Desember 1957, sebagai perusahaan minyak dan gas (migas) milik negara, dengan nama PT Permina. Nama Pertamina disematkan pada 1968 dengan merger dengan PT Pertamin. Sampai sekarang, Pertamina menjadi tulang punggung pengadaan minyak dan gas di Indonesia.

Namun, seperti mendaki jalan menanjak yang terjal dan penuh liku, Pertamina menghadapi tantangan yang kian berat. Sebab migas merupakan komoditi yang tidak bisa diperbaharui, dan sumber-sumber migas baru makin sulit ditemukan. “Tantangan ini bukan hanya dihadapi oleh Pertamina, tetapi juga seluruh perusahaan minyak di dunia,” ungkap Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan.

Namun, tantangan tersebut, justru memacu manajemen Pertamina untuk bekerja lebih kreatif lagi, mengayunkan berbagai langkah terobosan. Antara lain, dengan meneliti dan mengembangkan energi terbarukan seperti panas bumi, shale gas, gas metana batu bara (CBM), algae atau ganggang, bahkan tenaga angin.

Dengan langkah terobosan itu, Pertamina malah berani memasang target lebih tinggi: menjadi perusahaan energi bertaraf global! Terkesan ambisius, memang. Tapi jika melihat langkah dan pencapaian yang sudah diraih Pertamina, target tersebut tampak realistis. Lapi pula, tahapan ke arah itu, sudah dipancangkan sejak 2008.

Pada lima tahun pertama sejak pencanangan target besar itu, Pertamina menggenjot produksi minyak dari 490 ribu barel setara minyak per hari (mboepd) menjadi 517 mboepd. Pada lima tahun kedua, Pertamina sudah bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan minyak terkemuka di Asia Tenggara seperti Petronas dan Saudi Aramco. Di tahap ini, Pertamina sudah mampu menunjukkan keunggulan operasional. “Selanjutnya, 15 tahun kemudian, Pertamina akan menjadi perusahaan 15terbesar dunia,” tegas Karen, optimis.

Untuk mencapai target tinggi tersebut, Pertamina akan menjadikan sektor hulu sebagai titik fokus strategi. Namun, pada saat yang sama, sektor hilir pun digarap dengan serius, untuk meningkatkan nilai perusahaan melalui bisnis yang menguntungkan. Di hulu, Pertamina antara lain bakal memaksimalkan pertumbuhan pendapatan, bukan hanya fokus pada operasi domestik, tetapi juga ekspansi ke luar negeri. Semuanya dilakukan secara agresif.

Seperti dikatakan Karen, Pertamina tidak mungkin sanggup meningkatkan produksi di dalam negeri, tanpa melakukan ekspansi ke luar negeri. “Kita akan terus melebarkan sayap bisnis ke Sudan, Qatar, Australia, Vietnam, dan Malaysia,” ungkapnya.

Untuk dalam negeri, Pertamia terus memperluas wilayah kerja, terutama di lapangan-lapangan tambang yang produktif. Salah satu yang berhasil dilakukan, adalah mengambil alih lapangan offshore North West Java (ONWJ), yang sebelumnya milik BP Indonesia. Pertamina juga memiliki blok West Madura Offshore (WMO). Pengoperasian dua lapangan ini, mampu menggenjot produksi Pertamina.

Dalam menggarap sektor hulu, Pertamina menggerakkan enam anak perusahaan, yaitu PT Pertamina EP,PT Pertamina Hulu Energi, PT Pertamina Gas, PT Pertamina Geothermal Energy, PT Pertamina EP Cepu, dan PT Pertamina Drilling Services Indonesia. Sedangkan di sektor hilir, Pertamina terus meningkatkan penjualan bahan bakar nonsubsidi.

Langkah terobosan yang secara agresif dilakukan Pertamina, tentu saja ditunjang oleh adanya investasi baru,yang juga dilakukan secara besar-besaran. Dalam kurun 2011 sampai 2015, nilai investasi yang sudah dan akan digelontorkan, mencapai Rp 359 triliun. Sebagian besar, tepatnya 85 persen dari total investasi itu, dialokasikan untuk pengembangan ke sektor hulu.

Akhirnya, tentu saja setiap langkah agresif Pertamina tersebut, didukung oleh kinerja karyawan, di semua lapisan. Disamping selalu memberikan kinerja terbaiknya, manajemen dan seluruh karyawan Pertamina, ditintut untuk mematuhi ketentuan Good Corporate Government (SGC). Pada 2013, rating GCG Pertamina mencapai 93,51 dari skala 100, alias sangat baik.

Pencapaian tersebut lebih baik ketimbang capaian tahun sebelumnya, yakni 91,85. Hal tersebut memperlihatkan kepercayaan publik dan pasar juga mengalami perbaikan. Dengan kualitas GCG yang semakin mumpuni, tidak mengherankan penerapan prinsip-prinsip GCG di Pertamina menjadi contoh bagi BUMN lain di Indonesia.