Sekretariat:

Gedung Jamsostek Lantai 10
Jl. Jend. Gatot Subroto No. 79
Jakarta 12930

Tel: 021-5207797 Pes. 4010
Fax: 021-5202304
Email: [email protected]

PT INTI: Karyawan Sejahtera, INTI Jaya

Posted on

Sempat terseok di tengah-tengah gelombang bisnis teknologi informasi yang bergerak serba cepat, kini PT INTI bangkit untuk menapaki kembali masa kejayaannya. Semangat kerja karyawan dipacu lewat slogan “Karyawan Sejah Tera, INTI Jaya”, yang sekaligus menjadi filosofi perusahaan yang mengedepankan kesejahteraan karyawan.

Industri teknologi telekomunikasi, bergerak begitu cepat. Berbagai inovasi muncul dalam waktu hampir berdekatan, sehingga memperpendek usia sebuah produk. PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI), yang sebetulnya merupakan pemain lama di dalam negeri dalam produksi produk telekomunikasi pun, keteteran.

Namun, penyebab surutnya bisnis BUMN yang bermarkar di bandung, Jawa Barat ini, sebetulnya bukan hanya karena tak sanggup meladeni inovasi pesaing. Tapi juga disebabkan oleh organisasi yang tidak sehat. Ibaratnya, di sini terdapat “perusahaan dalam perusahaan”, karena hadirnya tiga unit bisnis strategis (SBU) di bawah payung PT INTI. Ketiga unit itu adalah produksi telepon tetap, perlengkapan operator seluler, dan jasa solusi teknologi informasi.

Dengan sistem itu, jalannya bisnis INTI tidak fokus, tidak efisien dan tanpa kontrol. Akibatnya, bertahun-tahun INTI merugi. Puncaknya pada 2008, INTI rugi Rp 49 miliar. Irfan Setiaputra, yang baru didapuk menjadi Direktur Utama pada 2009, pun kaget. “Saya 15 tahun di bisnis teknologi informasi, tidak ada yang rugi seperti ini,” ujarnya.

INTI sesungguhnya pernah berkibar, tapi lalu terpuruk. Sejak berstatus BUMN pada 1974, misinya yaitu menjadi tulang punggung sistem telekomunikasi nasional dan pemasok utama infrastruktur jaringan Telkom dan Indosat. Masalahnya, perkembangan teknologi yang cepat dan persaingan ketat, membuat langkah INTI terseok.

Untuk membenahinya, rapat intensif digelar. Sejumlah akan persoalan pun ditemukan. Pertama, karyawan lebih berorientasi pada penjualan ketimbang keuntungan. Kedua, banyak proyek dikerjakan tanpa menghitung cosf of money. Misalnya, INTI pernah memenangi proyek Rp 40 miliar. Di atas kertas, untung 2 persen, tetapi begitu digarap, cosf of money-nya 7 persen. Padahal, di bisnis ini, produsen harus membeli barang dulu, lalu dijahit dan dijual. Baru kemudian dibayar.

Ketiga, banyak SBU yang menghambat pertumbuhan bisnis. “Banyak bisikkan SBU harus dibubarkan,” kata lulusan Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) ini. Namun, ide ini jelas bakal ditentang. Karena itu, satu-satunya cara, manajemen baru harus meraih dulu kepercayaan karyawan. Apalagi, hampir 10 tahun, gaji karyawan tidak pernah naik.

Irfan lantas membalik slogan “INTI Jaya, Karyawan Sejahtera”, menjadi “Karyawan Sejahtera, INTI Jaya”. Caranya kontroversial. la dan jajaran manajemen menaikkan gaji karyawan 40 persen. Meski sempat dipertanyakan komisaris, ia menilai, efek psikologisnya besar. Karyawan percaya kepada manajemen baru. Bahkan, mereka punya harapan baru dan termotivasi untuk bekerja lebih baik.

Di saat bersamaan, beragam fasilitas direksi justru dipangkas, seperti dihapusnya biaya dinas perjalanan Bandung-Jakarta, jatah kartu kredit dibatasi dan mobil dinas hanya untuk tugas kantor.

Belum sampai satu bulan gaji dinaikkan, gebrakan berikutnya kembali dibuat. Kali ini, direksi merombak struktur bisnis. Karyawan ditugaskan sesuai dengan kapabilitas dan kompetensinya. Ada bagian produksi, marketing, keuangan dan fungsional.

“Saya tegaskan, yang mengubah, namanya Irfan, Dirut. Jangan lupa, gaji kalian sudah naik 40 persen,” kata mantan Managing Director PT Cisco Systems Indonesia ini di hadapan direksi, kepala divisi dan kepala bagian.

Walhasil, proses reorganisasi berjalan mulus. Kinerja keuangan INTI pun mulai cemerlang. Untung diraih. Dari laba bersih Rp 3 miliar pada 2009, setahun kemudian naik menjadi Rp 5 miliar.

Manajemen kemudian mulai menjajaki konsep bisnis baru INTI yaryg berorientasi konsumen. Salah satunya dengan meluncurkan ponsel murah merek IMO alias INTI Mobile pada pertengahan tahun ini. Ponsel seharga Rp 220-440 ribu ini membidik konsumen ponsel Cina. “Persepsi pasar positif,” kata Irfan.

Sebagian besar komponen IMO memang masih dari Cina, meski INTI juga menjajaki komponen lokal. Rencana lainnya, INTI masuk pasar smartphone berbasis android dan tablet dengan harga Rp 1 jutaan. Sasarannya, lagi-lagi pangsa pasar produk murah asal Cina.

Selain menjadi batu lompatan, proyek IMO ditujukan untuk membuka lapangan kerja baru di Bandung Selatan. INTI merekrut lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bertahap. Saat ini, ada 75 pekerja lulusan SMK merakit 5.000 ponsel IMO per minggu. Hingga akhir 2011, diperkirakan 100 orang masuk management trainee.

Untuk mengejar target laba Rp 300 miliar pada 2014, produksi ponsel akan didongkrak. Proyek jangka panjang dengan Telkom juga akan dioptimalkan. Keuntungan yang diraih rencananya dipakai untuk membangun industri bisnis konsumen.

Targetnya, lima tahun ke depan, INTI memiliki produk sendiri yang dikenal luas, seperti facebook atau produk apa pun yang mengena di hati banyak orang. “Mimpi saya, untung Rp 10 triliun,” kata Irfan. “Jika sampai ke situ, kehadiran INTI di Republik tak perlu dipertanyakan lagi.”

Jejak PT INTI

1906-1965
Pemerintah Hindia Belanda membentuk lembaga jasa pos dan telekomunikasi. Pada 1965, keduanya dipisah menjadi PN jasa pos dan PN Telekomunikasi.

1974
PN Telekomunikasi dibagi menjadi dua divisi, yakni PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI) dan Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel).

1984
PT INTI menjadi pionir digitalisasi sistem dan jarinqan telekomunikasi di Indonesia, serta berhasil dalam proyek otomatisasi telepon di Indonesia.

2005
PT INTI memantapkan langkah transformasi mendasar dari perusahaan jasa dengan kompetensi berbasis manufaktur beralih ke engineering solution

Komentar