Dahlan Iskan: Pribadi yang Fokus pada Kerja
Bekerja keras, efektif, dan tidak begitu peduli pada penampilan atau protokoler birokrasi. Itulah bagian dari style Dahlan Iskan. Mantan jurnalis ini, segera menjadi pusat perhatian, ketika diangkat menjadi Menteri BUMN karena gerakan licahnya, mengingatkan orang pada sosok Adam Malik.
Ketika hasil reshufle Kabinet Indonesia Bersatu II diumumkan, Oktober 2011 lalu, masyarakat banyak yang menyampaikan ketidakpuasannya. Tapi, masuknya Dahlan Iskan sebagai Menerti BUMN menggantikan Mustofa Abubakar, menjadi kekecualian yang kontras. Publik menyambut kehadiran mantan Direktur Utama (Dirut) PT PLN itu, dengan antusias.
Dahlan Iskan, yang punya sikap nothing to lose, dipercaya bisa menjadi tempok tebal bagi kekuatan manapun, yang berniat merongrong BUMN. Lebih dari itu, Dahlan Iskan adalah tipe pekerja tulen, yang tak segan-segan menerabas hambatan birokrasi dan protokoler, untuk efektifitas tugas yang diembannya.
Tengok saja, bagaimana sibuknya Dahlan Iskan, tidak lama setelah melakukan serah terima jabatan (sertijab) dengan Mustopfa Abubakar. Ia langsung menggelar pesta perpisahan dengan direksi PT PLN secara sederhana di Sate Kambing Pejompongan. Setelah itu, ia mengunjungi semua ruang staf dan pejabat di Kementerian BUMN.
Sore itu juga, Dahlan langsung menggelar Rapat Pimpinan (Rapim) pertama. Dalam rapat itu, ia menyatakan bahwa sebagai Menteri ia tidak akan mengangkat Staf Khusus Menteri, meski secara ketentuan, itu memungkinkan. Dan malamnya, sekitar pukul 20.00 WIB, Dahlan sudah langsung bergerak ke Bali, untuk kemudian menyeberang ke Lombok. Di Lombok, Dahlan mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan groundbreaking pembangunan kawasan pariwisata terpadu Mandalika.
Di sela-sela mendampingi Presiden, Dahlan juga menyempatkan diri berkoordinasi dengan Dirut PT Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II, termasuk direksi PT Bali Tourism Development Corporation (BTDC). Sekembali dari Lombok, Dahlan langsung melakukan rapat dengan para deputinya. Selanjutnya, pada Sabtu (22/10) Dahlan bertolak ke Sumatera Utara, melakukan kunjungan kerja ke Nias. Dahlan menyertakan sejumlah direksi seperti Dirut PT Kereta Api Indonesia, PT ASDP Indonesia Ferry, dan PT Jasa Marga.
Sambil menginap di Pulau Nias, Dahlan pada malam harinya melakukan diskusi rileks, namun sangat produktif, dengan para direksi terkait pembangunan yang melibatkan BUMN di kawasan itu.
Tidak cukup sampai di situ, Minggu (23/10) pagi, Ketua Umum GABSI (Gabungan Bridge Seluruh Indonesia) ini pun bergerak menuju Medan. Di ibukota Provinsi Sumatera Utara itu, Dahlan memanggil direksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I, II, III, dan IV serta PT Kawasan Industri Medan, PT Pupuk Iskandar Muda. Ia kembali ke Jakarta Minggu sore, namun Dahlan juga ‘dihadang’ permintaan pertemuan oleh Dirut PT Pelindo II, RJ Lino, yang melaporkan berbagai program pengembangan Pelindo II.
Itu soal gambaran etis kerja seorang Dahlan Iskan. Sedangkan kesederhanaannya, sudah banyak diperbincangkan ketika pelantikan, dan sertijab. Dalam acara sertijab, yang berlangsung di lantai 21 KBUMN, dengan santainya Dahlan hanya berkemeja putih dengan lengan digulung, tanpa jas, dan tetap setia bersepatu kets hitam. “Saya sudah terbiasa 30 tahun memakai sepatu kets, sejak jadi wartawan,
