PT Biofarma terus melejit, sebagai industri farmasi yang bermain di pentas pasar global. Di bawah kepemimpinan Iskandar, sebagai Dirut, manajemen PT Biofarma menjalankan kebijakan dengan spirit kebajikan.
Di seantero muka bumi, hanya ada 23 industri farmasi yang memproduksi vaksin dengan registrasi dari World Health Organization (WHO). Salah satunya, adalah PT Biofarma. Dengan pemasaran yang 60 persen di arahkan ke pasar ekspor di 117 negara, BUMN yang sudah berusia 121 tahun ini, telah menjelma menjadi perusahaan kelas dunia.
Di Indonesia, Biofarma merupakan satu-satunya perusahaan yang memproduksi vaksin dan serum. Yang paling membanggakan, tentu saja pengembangan vaksin flu burung, yang mendapat dukungan WHO. Di bawah kepemimpinan Iskandar sebagai Direktur Utama (Dirut), kinerja bisnis Biofarma pun kian kinclong. Sebagai gambaran, pada 2011 perusahaan berhasil membukukan pendapatan 80 juta dolar AS. Tahun ini, perusahaan siap melejitkan pendapatan hingga 100 dolar AS, atau 800 miliar.
Bagi Iskandar, pencapaian tingga PT Biofarma hingga seperti sekarang ini, merupakan kontribusi setiap karyawan. “SDM Biofarma luar biasa. Kualitasnya termasuk yang terbaik,” ujar Iskandar, bangga. Di Biofarma, kata Iskandar, semua karyawan fokus pada kerja, sehingga tidak pernah ada ribut-ribut. “Bahkan untuk pergantian direksi pun, tidak ada kebisingan,” ungkapnya.
Di samping karena karyawan fokus pada kerja, absennya “kebisingan” di Indofarma karena peran optimal serikat pekerja (SP), sehingga mampu menciptakan hubungan industrial yang harmonis. “Keberadaan SP, bisa membuat hubungan karyawan dan manajemen, berlangsung secara efisien,” Bayangkan, kalau karyawan memperjuangkan aspirasinya secara sendiri-sendiri. Repot,” ucap Iskandar.
Iskandar memahami, bahwa peran SP adalah memperjuangkan hak karyawan, seperti kenaikan gaji dan fasilitas lainnya. Di sisi lain, kadang manajemen tidak mampu memenuhi sebagian atau malah semua tuntutan itu, antara lain karena kondisi perusahaan. “Saya melihat, SP di Biofarma, sejauh ini mampu menjembatani komunikasi manajemen dengan karyawan,” ujar Iskandar.
Iskandar, yang sudah berkarir di Biofarma hampir 30 tahun, memahami betul soal peran SP Biofarma, karena pernah menjadi pengurusnya. “Sebetulnya, dalam SP itu ada jiwa perusahaan juga,” jelasnya, “SP pasti tahu apa yang terjadi dengan perusahaan, tentang keadaan finansialnya, dan lainnya. Jadi kalau, misalnya, SP menuntut kenaikan gaji, mereka sudah bisa menghitung.”
Gesekan terjadi, biasanya, karena dua hal. Pertama, SP hanya fokus pada tuntutannya, tanpa mau memahami keadaan perusahaan. Atau, kedua, pimpinan perusahaannya yang tidak mau memahami kepentingan karyawan. Dia menganggap, menekan hak karyawan itu merupakan bagian dari efisiensi yang harus dilakukan. “Saya melihat, yang kedua ini kemungkinan terjadinya lebih besar. Sebab, bagaimanapun, kebijakan perusahaan sangat ditentukan oleh visi pemimpinnya,” tutur Iskandar.
Hubungan industrial di sebuah perusahaan termasuk BUMN, lanjut Iskandar, bisa terwujud apabila pemimpinnya memahami rumusan sederhana ini: “Yang baik untuk karyawan, baik juga untuk perusahaan”. Karyawan, yang menganggap perusahaan sebagai sumber nafkahnya yang utama, tidak mungkin memaksakan kehendaknya, jika mereka tahu akan berdampak buruk pada perusahaan. Dan sebaliknya.
SP yang baik, dalam pandangan Iskandar, adalah yang mampu mengajak karyawan untuk bergerak searah dengan cita-cita perusahaan. “Nah, soal ke mana masa depan perusahaan akan diarahkan, manajemen dan SP boleh berdebat sengit,” jelasnya, “Jangan menghabiskan energi dengan berdebat soal gaji. Karena masalah ini mudah diselesaikan, dengan mengukur kekuatan perusahaan.”
Bukan hanya karyawan. Pimpinan dan jajaran direksi pun, harus bergerak ke arah cita-cita perusahaan. Kalau melenceng, harus minggir. “Bahkan, karyawan berhak untuk meminggirkan direksi BUMN yang tidak berjalan ke arah cita-cita perusahaan, termasuk melaporkannya ke Kementerian BUMN,” tutur Iskandar.